GIZI BURUK

PENGERTIAN

Balita merupakan kelompok masyarakat yang rentan gizi. Pada kelompok tersebut mengalami siklus pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan zat-zat gizi yang lebih besar dari kelompok umur yang lain sehingga balita paling mudah menderita kelainan gizi.Kejadian gizi buruk seperti fenomena gunung es dimana kejadian gizi buruk dapat menyebabkan kematian.Pengertian gizi buruk adalah status/keadaan gizi berdasarkan Berat Badan menurut Tinggi Badan/Panjang Badan (BB/TB-PB) < -3SD dan atau dengan tanda-tanda klinis tampak sangat kurus dengan/tanpa edema.Bila ditemukan edema (minimal pada kedua punggung kaki), tanpa melihat status anthropometri serta tidak ditemukan penyebab lain edema (penyakit ginjal,jantung dan hati), maka anak tersebut termasuk gizi buruk.Kasus gizi buruk dapat terjadi karena keadaan kurang gizi tingkat berat yang disebabkan rendahnya konsumsi energi (karbohidrat,protein,dan lemak) dalam makanan sehari-hari dan atau disertai penyakit infeksi, sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG) dan sering disertai dengan kekurangan zat gizi mikro (vitamin dan mineral). Terdapat 3 jenis gizi buruk yang sering dijumpai yaitu kwashiorkor, marasmus dan gabungan dari keduanya marasmiks-kwashiorkor. Pengertian kwashiorkor sendiri adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang berat disebabkan oleh asupan karbohidrat yang normal atau tinggi dan asupan protein yang inadekuat.Adapun gejala klinis  kwashiorkor adalah perubahan status mental (apatis dan rewel), rambut tipis dan kemerahan serta warna  rambut jagung , wajah membulat dan sembab, pandangan mata sayu, pembesaran hati serta edema. Kwashiorkor dapat dibedakan dengan marasmus yang disebabkan oleh asupan dengan kurang dalam kuantitas tetapi kualitas yang normal. Dengan gejala klinis : tampak sangat kurus ,wajah seperti orang tua, cengeng,kulit keriput, iga gambar ,perut umumnya cekung, sering disertai penyakit infeksi.Sedangkan marasmiks-kwashiorkor adalah gabungan dari kwashiorkor dengan marasmus yang disertai dengan edema.

PREVALENSI

Gambaran prevalensi status gizi Balita diperoleh dari hasil Riset Kesehtan Dasar (Riskesdas) yang menjadi salah satu dasar untuk menetapkan kebijakan berbasis bukti yang dilakukan 3-5 tahun sekali. Hasil yang berhasil dipotret adalah prevalensi gizi kurang/kekurangan gizi (underweight) pada anak usia dibawah lima tahun (Balita) serta prevalensi pendek dan sangat pendek (Stunting) pada anak usia dibawah dua tahun (Baduta). Menurut data yang diperoleh tahun 2016 memperlihatkan prevalensi gizi buruk 3,4%  dan gizi kurang 14,4%. Masalah gizi buruk-kurang pada Balita di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang  masuk dalam kategori sedang (Indikator WHO diketahui masalah gizi buruk-kurang sebesar 17,8%).Prevalensi gizi kurang di Jawa Tengah pada tahun 2016 adalah 16,9%. Kejadian gizi buruk apabila tidak diatasi akan menyebabkan dampak yang buruk bagi balita.

PENCEGAHAN

Deteksi dini anak yang kurang gizi (gizi kurang dan gizi buruk) dapat dilakukan dengan pemeriksaan BB/U untuk memantau berat badan anak. Selain itu pamantauan tumbuh kembang anak dapat juga menggunakan KMS(KartuMenuju Sehat).Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya gizi buruk, diantaranya adalah status sosial ekonomi, ketidaktahuan ibu tentang pemberian gizi yang baik untuk anak, dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat sedangkan ekonomi adalah segala usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan untuk mencapai kemakmuran hidup. Sosial ekonomi merupakan suatu konsep dan untuk mengukur status sosial ekonomi keluarga dilihat dari variabel tingkat pekerjaan. Selain status sosial ekonomi, BBLR juga dapat mempengaruhi terjadinya gizi buruk, hal ini dikarenakan bayi yang mengalami BBLR akan mengalami komplikasi penyakit karena kurang matangnya organ, menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik dan gangguan gizi saat balita. Sumber lain menyebutkan asupan makanan keluarga, faktor infeksi, dan pendidikan ibu menjadi penyebab kasus gizi buruk. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan kejadian gizi buruk. Dalam penelitian yang dilakukan di Kabupaten Lombok Timur tahun 2005 menunjukkan bahwa terdapat hubungan status ekonomi, pendidikan ibu, pengetahuan ibu dalam monitoring pertumbuhan, perhatian dari ibu, pemberian ASI, kelengkapan imunisasi, dan asupan makanan balita dengan kejadian gizi buruk. Rendahnya pendidikan dapat mempengaruhi ketersediaan pangan dalam keluarga, yang selanjutnya mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi pangan yang merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada anak balita. Selain pendidikan, pemberian ASI dan kelengkapan imunisasi juga memiliki hubungan yang bermakna dengan gizi buruk karena ASI dan imunisasi memberikan zat kekebalan kepada balita sehingga balita tersebut menjadi tidak rentan terhadap penyakit. Balita yang sehat tidak akan kehilangan nafsu makan sehingga status gizi tetap terjaga baik. Balita gizi buruk yang dirawat di RS biasanya selain menderita gizi buruk juga menderita penyakit lainnya seperti TBC, ISPA, dan diare. Hal ini dikarenakan penyakit penyerta yang diderita oleh balita menyebabkan menurunnya nafsu makan sehingga pemasukan zat gizi ke dalam tubuh balita menjadi berkurang. Prosedur perawatan yang dilakukan balita di RS juga menyebabkan menurunnya status gizi pada balita. Pengobatan tersebut seperti mengharuskan balita berpuasa dan pengambilan darah yang terus menerus dalam prosedur diagnostik medik.Hal ini disebut sebagai malnutrisi rumah sakit.Menurut penelitian yang dilakukan di Instalasi Gizi Panile tahun 2007 menjelaskan bahwa status gizi buruk menyebabkan lama rawat inap menjadi semakin lama.

PENGOBATAN

Pemulihan anak gizi buruk memerlukan waktu lebih kurang 6 bulan, namun perawatan inap dapat dilakukan samapai anak mencapai BB/TB-PB > -3SD (tanpa edema) dan nafsu makan baik,tetapi pemulihan gizi tetap dianjurkan dengan rawat jalan di Pemulihan Gizi Berbasis Masyarakat (PGBM) .Perawatan dan pengobatan anak gizi buruk terdiri dari 4 fase, yaitu :

  • Fase Stabilisasi

Adalah fase awal perawatan yang umumnya berlangsung 1-2 hari, tetapi dapat berlanjut sampai satu minggu atau lebih sesuai kondisi klinis anak, kegawatdaruratan harus segera dilakukan tindakan, karena keterlambatan penanganan dapat mengakibatkan kematian. Pada  fase ini idberikan energy 80-100 kkal/kgBB/hari dan protein 1-1,5gr/kgBB/hari berupa formula khusus (F75). Pada umumnya fase ini berlangsung dalam dua hari pertama., tetapai dapat berlanjut atau sesuai dengan kondisi klinis anak.

  • Fase Transisi

Adalah masa peralihan dari fase stabilisasi ke fase rehabilitasi. Pada fase ini pemberian energy dinaikkan secar bertahap dari 100kkal/kgBB menjadi 150kkal/kgBB/hari dan protein 2-3gr/kgBB/hari disertai perubahan pemberian formula dari F75 ke F100. Umumnya berlangsung selama  satu minggu.

  • Fase Rehabilitasi.

Adalah fase pemberian makanan untuk tumbuh kejar. Pemberian energy sebesar 150-220 kkal/kgBB/hari dalam bentuk F100, bertahap ditambah makanan yang sesuai BB.Umumnya berlangsung 2-4 minggu.

  • Fase Tindak Lanjut.

Adalah fase setelah anak dipulangkan dari tempat perawatan. Fae ini merupakan lamjutan pemberian makanan untuk tumbuh kejar dengan pemberian makanan keluarag dan Pemberian Makanan Tambahan- Pemulihan (PMT-P).

MARASMUS
KWASHIORKOR

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai